Mega bencana tsunami di bumi Indonesia akhir tahun 2004 yang merenggut nyawa hingga sekitar 220.000 lebih korban jiwa kini menyingkap temuan lain hasil riset lanjutan pasca-tsunami atas kondisi kedua lempeng tektonik yang saling bertemu dan saling bertumbukkan Indo-Australian dan Euro-Asian plate.
Berdasar kajian riset geologis hasil penggalian yang dilaksanakan oleh 2 kelompok ilmuwan masing-masing di Thailand serta Indonesia yang keduanya merupakan wilayah yang terkena dampak terhebat kejadian tsunami akhir tahun 2004 sebagai akibat dampak pelepasan mega energi yang terjadi akibat tumbukkan antara kedua lempeng di atas, maka Katrin Monecke dkk dari University of Pittsburgh at Johnston - Pennsylvania, AS yang melaksanakan penggalian riset di wilayah pesisir Aceh, menyatakan kedua penggalian menemukan adanya deposit lapisan pasir pantai pada kedalaman lapisan tanah di kawasan pedalaman yang mengindikasikan pernah terjadinya bencana dahsyat serupa tsunami tahun 2004 yakni diperkirakan terjadi sekitar 600 tahun silam.
Hasil riset yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah sains terkemuka yang berpusat di London, Inggris : Nature terbitan terkini. Penelitian penaksiran usia sampel geologis dengan menggunakan pengujian metode radio-carbon memunculkan taksiran usia dalam kisaran 600 hingga 1000 tahun silam; lapisan pasir dari lokasi p.Sumatera ditaksir berusia tahun 1290-1400 sedangkan sampel dari Thailand berkisar tahun 1300-1450. Sampel penelitian di wilayah pesisir Sumatera diambil dari wilayah sejauh hingga 2km dari pesisir pantai dekat kota Meulaboh Propinsi NAD Aceh yang pada kejadian Tsunami 2004 mencatatkan suatu rekor tersendiri yakni gelombang tsunami hingga setinggi 35 meter diatas garis muka laut!
Sedangkan sampel deposit dari wilayah Thailand diambil dari p. Phra Thong yang terletak 124 km sebelah Utara pusat resor pantai Phuket yang mencatatkan gelombang tsunami setinggi 20 meter pada tahun 2004 yl. Atas temuan kejadian tsunami serupa itu dan berkaitan dengan upaya pemasyarakatan Sistem Peringatan Dini Tsunami Katrin Monecke berpendapat memang temuan bahwa bencana sedahsyat tsunami 2004 hanya dapat terjadi selewat selang waktu ratusan tahun lamanya dapat mengaburkan ingatan khalayak setempat akan bahaya mega bencana tsunami.
Sedangkan Stein Bondevik ahli geologi Norwegia urun rembuk berkomentar bahwa menjadi amatlah penting guna didapatkannya riset lenjutan lain yang mengkonfirmasikan atas temuan hasil riset di atas : ---butuh setidaknya hingga 600 tahun lamanya yang terhimpun dari stress terjadinya tumbukan antara kedua lempeng tektonik dunia hingga dapat memicu keruntuhan gempa tektonik berskala 9.0 Richter seperti model bencana tsunami 2004 yl--- Dan diungkapkan pula bahwa tsunami pembawa bencana yang berskala lebih kecil adalah sangat mungkin terjadi dan oleh karenanya sistem deteksi dini Tsunami tetaplah penting pembangunannya untuk penyelamatan jiwa penduduk. Sama pentingnya dengan cara pemasyarakatan bencana tsunami cara tradisi yakni dengan dongeng yang diturunkan dari generasi ke generasi, yang terbukti dapat menyelamatkan keselamatan jiwa seribuan penduduk p.Simeulue yang terletak di lepas pantai Sumatera Barat ketika tsunami melanda tahun 2004 maka penduduk dapat selamat karena diajarkan untuk lari mengungsi ke perbukitan sekiranya gempa besar melanda. Sumber: Up-dates info web situs Nature-dot-com. / Rizal AK
Tidak ada komentar:
Posting Komentar